Bahan Bakar Ajaib dan Produk Sejenisnya
Setiap beberapa tahun ada saja produk-produk ajaib berupa bahan bakar murah, penghemat bahan bakar, atau pernak-pernik lain yang menjanjikan harga murah, peningkatan efisiensi bahan bakar kendaraan bermotor, atau klaim lainnya.
Polanya selalu sama: di awal penuh dengan euforia dan antusiasme, namun diakhiri dengan kekecewaan karena hasilnya sama sekali tidak sesuai dengan yang dijanjikan.

Produk-produk semacam ini memiliki pola yang hampir selalu sama. Berikut adalah ciri-ciri yang umum ditemukan pada produk-produk tersebut. Ini adalah daftar umumnya, bukan aturan baku. Tidak semua produk akan memiliki semua ciri-ciri berikut, namun semua produk akan memiliki hampir semua ciri-ciri berikut ini.
Klaim Bombastis
Semua produk tersebut memiliki klaim yang bombastis. Contoh:
- Menghemat bahan bakar hingga 50%
- Meningkatkan kinerja mesin hingga 30%
- Mengurangi emisi gas buang hingga 40%
- Harga sangat murah, hanya sepersekian dari produk lain di pasaran
- Mengubah air biasa menjadi bahan bakar
Semua adalah klaim yang mustahil, sulit dicapai, atau tidak realistis untuk teknologi yang mereka tawarkan.
Tak Memahami Hukum Alam
Pencetus produk umumnya tidak dapat membedakan mana hukum alam atau keterbatasan fisika, dan mana masalah yang dapat diatasi melalui rekayasa teknologi. Hukum kekekalan energi, misalnya, adalah hukum alam yang mustahil dilanggar. Apapun teknologi yang mereka tawarkan, tidak mungkin dapat menghasilkan energi lebih banyak daripada yang dimasukkan ke dalam sistem.
Apabila suatu saat mereka ketahuan tidak mampu deliver, mereka akan katakan bahwa "masih membutuhkan penyempurnaan" atau "masih dalam tahap pengembangan". Padahal, jika klaimnya dari awal sudah melanggar hukum fisika, sekeras apa pun usaha yang dilakukan tidak akan pernah membuatnya menjadi mungkin.
Melawan Hukum Ekonomi
Jika produk tersebut menawarkan alternatif yang diklaim sangat jauh lebih murah daripada produk yang sudah ada di pasaran, maka hal tersebut tidak mungkin berlangsung lama. Produk yang murah akan mendapat tekanan dari sisi supply, dan produk yang mahal akan mendapat tekanan dari sisi demand. Pada akhirnya harga kedua produk akan mengalami konvergensi ke titik ekuilibrium, dan hal yang dijanjikan tidak akan pernah tercapai.
Berapa harga ekuilibriumnya? Akan sangat tergantung pada kemampuan supply dari produk yang baru. Dan biasanya mereka terkesan meremehkan kemampuan supply dari produk yang sudah ada, dan membesar-besarkan kemampuan supply dari mereka sendiri.
Dijual Retail Sendiri
Mereka menjual produknya secara retail, langsung ke konsumen.
Hal ini tentunya patut kita pertanyakan. Jika ada yang punya solusi yang memang benar-benar dapat menghemat konsumsi bahan bakar hingga 50%, misalnya, mengapa harus bersusah payah untuk menjualnya secara eceran?
Lebih masuk akal jika teknologinya dilisensikan ke perusahaan besar, atau bahkan ke pemerintah negara-negara secara langsung. Lalu si peneliti bisa hidup dengan nyaman dari royalti tanpa harus banyak bekerja.
Bahkan, jika hasilnya memang sesuai yang diklaim, negara-negara yang relatif pro lingkungan seperti Uni Eropa akan mewajibkan penggunaan teknologi tersebut. Jadi tidak perlu melakukan pemasaran, membuat jaringan distribusi, dan sebagainya. Mereka hanya perlu duduk manis menunggu transfer royalti.
Bumbu Nasionalisme dan Agama
Biasanya produk-produk semacam ini akan disertai bumbu-bumbu nasionalisme atau agama untuk menambah daya tariknya. Misalnya dengan mengatakan bahwa produk tersebut adalah hasil karya anak bangsa, atau terinspirasi ayat suci agama tertentu.
Kenapa mereka melakukannya? Karena di sini trik dagang seperti itu laku keras. Masyarakat mudah terpengaruh oleh isu nasionalisme dan agama. Jika ada pihak yang kritis, nanti akan dapat dengan mudah mereka tuduh tidak nasionalis atau mereka tanya "agamamu apa?"
Evaluasi Tanpa Pengukuran Ilmiah
Tidak ada pengukuran ilmiah yang jelas untuk mendukung klaim yang dibuat. Biasanya mereka hanya akan mengandalkan perasaan atau metode pengukuran yang tidak terkontrol. Contoh:
- Mengukur konsumsi BBM tanpa mengontrol variabel lain.
- Menilai emisi dengan mencium bau knalpot.
- Menilai getaran mesin atau akselerasi menggunakan perasaan.
- Menggunakan testimoni pengguna sebagai bukti, tanpa ada data kuantitatif yang jelas.
Mengandalkan Rahasia Dagang, bukan Paten
Untuk melindungi kepemilikan intelektual, mereka mengandalkan kerahasiaan, bukan paten. Mereka akan mempresentasikan perangkatnya sebagai sebuah black box. Masyarakat hanya melihat apa masukannya dan apa keluarannya, tanpa tahu apa yang terjadi di dalamnya.
Bisa saja, dan sudah terjadi, bahwa output dari alat tersebut sudah disiapkan sebelumnya, dan bukan dihasilkan dari proses yang terjadi di dalam black box tersebut. Alhasil, yang kita saksikan adalah pertunjukan sulap, bukan teknologi yang sesungguhnya.
Endorsement dari Politisi atau Selebriti
Ciri-ciri lain dari produk-produk semacam ini adalah adanya dukungan dari politisi, pengusaha, atau selebriti. Ini hanya membuat gaduh, tetapi tidak mempengaruhi kualitas produk. Jika produknya tidak berfungsi, ya tetap tidak berfungsi, tidak peduli siapa pun yang mendukungnya.
Masalahnya adalah orang-orang ini adalah orang-orang dengan pengaruh besar, dan mereka dapat mempengaruhi opini publik atau kebijakan pemerintah.
Tidak ada Publikasi Ilmiah
Biasanya tidak ada publikasi ilmiah yang berkaitan dengan teknologi yang digunakan. Apabila kita pertanyakan, mereka akan mengatakan bahwa teknologinya adalah rahasia perusahaan, dan "Untuk apa kita mempublikasikan sehingga bisa digunakan orang lain?"
Mereka sepertinya tidak paham bahwa intelektual properti tetap bisa dilindungi melalui paten. Dan jika mereka mengandalkan rahasia dagang, maka mereka harus siap jika suatu saat rahasia tersebut bocor, atau ada orang lain yang menemukan cara yang sama. Lalu mereka akan kehilangan keunggulan kompetitifnya.
Teori Konspirasi
Teori konspirasi adalah jurus yang bisa mereka lakukan sejak awal, atau hanya jika sudah terdesak. Contohnya adalah:
- "Mereka" (biasanya adalah pihak asing) tidak menginginkan teknologi ini berkembang karena akan mengancam bisnis mereka.
- "Mereka" (biasanya adalah ilmuwan atau lembaga riset besar) menolak teknologi ini karena takut kehilangan posisi mereka.
- "Mereka" (biasanya adalah pemerintah) tidak mengizinkan teknologi ini karena akan mengurangi pendapatan negara dari pajak dan tidak ingin rakyatnya menikmati produk murah.
Dilakukan Individu atau Tim Kecil
Produk-produk semacam ini biasanya dikembangkan oleh individu atau tim kecil, dan seringkali tidak melibatkan ilmuwan. Apakah memungkinkan individu atau tim kecil yang bukan ilmuwan dapat mengembangkan teknologi yang benar-benar revolusioner, teknologi yang terlewatkan begitu saja oleh ribuan-jutaan ilmuwan di seluruh dunia?
Bisa saja. Namun jauh lebih memungkinkan jika ini hanyalah efek Dunning-Kruger, di mana orang yang tidak kompeten memiliki kepercayaan diri yang berlebihan terhadap kemampuannya.
