Lewati ke konten utama

Ibadah Kurban dan Perubahan Iklim

· Satu menit membaca

Mari kita bahas dampak dari ibadah kurban terhadap perubahan iklim, dan mengapa saya memutuskan untuk tidak lagi melakukan ibadah kurban.

Emisi metana

Dampak Perubahan Iklim dari Hewan Ternak

Hewan pemamah biak seperti sapi, kambing, dan domba mengonsumsi tanaman yang mengandung selulosa yang sulit dicerna. Untuk mencernanya, hewan-hewan ini bergantung pada mikroorganisme yang hidup di dalam perut mereka. Proses pencernaan ini menghasilkan gas metana (CH4) sebagai produk sampingan.

Metana adalah gas rumah kaca yang memiliki potensi pemanasan global yang jauh lebih besar daripada karbon dioksida (CO2). Dalam 20 tahun pertama setelah dilepaskan, metana memiliki potensi pemanasan global sekitar 84-87 kali lebih besar daripada CO2. Oleh karena itu, emisi metana dari peternakan hewan merupakan kontributor signifikan terhadap perubahan iklim.

Emisi metana dari peternakan

100 gram protein yang berasal dari daging sapi menghasilkan efek gas rumah kaca yang setara dengan sekitar 50 kg CO2. Ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan daging kambing atau domba, dan puluhan kali lipat lebih besar daripada sumber protein nabati seperti kacang-kacangan atau biji-bijian.

Sebagai perbandingan, kendaraan bensin menghasilkan emisi sekitar 250g CO2eq per kilometer. Maka 100 gram protein dari daging sapi setara dengan emisi dari mengemudi sekitar 200 kilometer dengan mobil bensin. Ini memberikan gambaran yang jelas tentang dampak lingkungan dari konsumsi daging sapi.

Dibandingkan dengan emisi gas rumah kaca secara keseluruhan, sektor peternakan menyumbang sekitar 14,5% dari total emisi global, dengan sebagian besar berasal dari metana yang dihasilkan oleh hewan pemamah biak.

Perbandingan emisi gas rumah kaca

Kurban dan Efeknya Terhadap Konsumsi Daging Secara Keseluruhan

Berdasarkan catatan Kementerian Agama, selama Idul Adha tahun 2025, masyarakat Indonesia menyembelih lebih dari 600 ribu ekor sapi. Sebagai perbandingan, jumlah tersebut setara dengan 65% dari total sapi yang disembelih untuk keperluan non-ibadah selama tahun 2025. Sedangkan untuk kambing dan domba, angkanya bahkan mencapai 740%.

Kondisi zaman sekarang juga tentunya berbeda dengan masa-masa saat agama Islam pertama kali muncul. Dulu populasi manusia hanya sekitar 250 juta jiwa, sekarang sudah mencapai 8 miliar jiwa. Jumlah hewan ternak yang ada pun ikut meningkat secara signifikan. Jadi tidak bisa disamakan dengan kondisi zaman dulu saat agama Islam pertama kali muncul.

Untuk berkurban, saat ini kita perlu merogoh uang sekitar Rp 30 juta untuk seekor sapi. Harga tersebut hanya untuk harga sapinya saja, tetapi ada harga yang tidak kita bayarkan secara langsung, yang biasanya tidak terpikirkan, yaitu biaya dampak negatif terhadap lingkungan. Biaya ini nantinya harus dibayarkan oleh anak cucu kita.

Kesimpulan Pribadi

Berdasarkan data-data tersebut, saya menyimpulkan bahwa ibadah kurban memiliki jauh lebih banyak dampak negatif, dan memutuskan untuk tidak melakukan ibadah kurban di masa depan. Posisi ini tetap sejalan dengan ajaran Islam, karena ibadah kurban bukanlah kewajiban.

Hal ini kurang lebih sama saja dengan hal-hal seperti rokok. Dahulu dianggap mubah, lalu setelah diketahui dampak negatifnya, banyak yang menyimpulkan bahwa rokok itu makruh, atau bahkan haram. Ini adalah gambaran bahwa posisi agama terhadap suatu hal bisa berubah seiring dengan perkembangan zaman dan pengetahuan baru yang kita dapatkan. Bedanya, di sini saya tidak mengharamkan, dan ini hanyalah keputusan pribadi saya

Walaupun demikian, saya merasa agama seharusnya menjadi yang pertama menjadi agen perubahan ke arah yang lebih baik, dan bisa beradaptasi berdasarkan perubahan kondisi di lapangan dan terhadap pengetahuan baru yang sebelumnya belum kita ketahui.